HABARTerkini.net, Paringin – Ancaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Balangan hingga pertengahan tahun 2026 terpantau jauh lebih terkendali. Berdasarkan hasil analisis citra satelit Sipongi Kementerian Kehutanan, luasan area yang hangus terbakar hingga akhir Juni lalu hanya menyentuh angka 11,81 hektare.

Angka luasan tersebut turun drastis jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tercatat, sepanjang tahun 2025 lalu total lahan yang dilahap api mencapai 210,60 hektare.

Jika melongok tren historis sejak 2018, luasan karhutla di Balangan memang sangat fluktuatif. Sempat menyentuh angka 610 hingga 894 hektare pada rentang 2018-2019, Balangan menorehkan rekor nihil kebakaran pada 2020 dan hanya menyentuh belasan hingga puluhan hektare di dua tahun setelahnya.

Namun, luasan lahan yang terbakar kembali meledak menyentuh rekor terburuk 1.040 hektare lebih pada 2023, sebelum akhirnya berangsur turun di kisaran 200 hektare pada 2024 dan 2025, hingga menyusut drastis pada paruh pertama tahun ini.

Menurunnya tren kebakaran ini membuat pemerintah daerah setempat belum mengambil langkah terkait penetapan status kebencanaan. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan, Jumaidil Hairi memastikan bahwa situasi di lapangan masih dalam batas kendali.

Oleh karena itu, usulan permohonan bantuan pemadaman udara melalui helikopter pembom air ke pihak provinsi juga belum diajukan.

“Sementara untuk status Balangan masih belum menetapkan siaga darurat sembari melihat kondisi lebih lanjut. Karena kondisi sejauh ini relatif masih bisa tertangani, kami juga belum mengajukan bantuan water bombing,” terang Jumaidil, Selasa (28/7/2026).

Meski demikian, Jumaidil menuturkan pihaknya tidak ingin kecolongan. Ia membeberkan bahwa sebaran titik api saat ini mulai bermunculan dibeberapa wilayah Kecamatan di Balangan.

“Kecamatan rawan titik api saat ini memang berada di Batumandi dan Lampihong, karena merupakan daerah gambut. Namun, untuk kesiapsiagaan penanganan, kami selalu mengaktifkan posko di kantor induk selama 24 jam setiap harinya,” tambahnya.

Guna memaksimalkan pencegahan di titik rawan tersebut, BPBD Balangan terus menjalin koordinasi ketat dengan berbagai instansi. Mulai dari Manggala Agni Daerah Operasi VI Tanah Laut melalui pondok kerja di Batumandi, Kesatuan Pengelolaan Hutan Balangan, unsur TNI dan kepolisian, hingga barisan relawan.

“Koordinasi lintas sektor ini sangat penting, apalagi kendala utama di lapangan saat pemadaman adalah minimnya ketersediaan sumber air serta sarana prasarana pendukung lainnya,” urainya.

Memasuki puncak musim kemarau, pengawasan di wilayah langganan titik api dipastikan akan semakin diperketat. Langkah mitigasi mandiri dan sinergi aparat ini diharapkan mampu mempertahankan tren penurunan angka karhutla di Balangan hingga akhir tahun 2026..(hen/mi).

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version